Mainstream Baru Gerakan Mahasiswa

GERAKAN mahasiswa adalah ruh suci yang lahir dari panggilan kemuliaan fitrah intelektualitas. Mengemban misi luhur sebagai social cell, dengan jangkauan hingga jauh dari sentrumnya, baik secara vertikal maupun horizontal. Ciri khas kaum muda yang melekat pada mahasiswa seperti dinamis, wawasan luas, mobilitas tinggi, fisik kuat, keterbukaan pemikiran dan idealisme yang mengkristal menjadi daya dorong bagi kelompok kecil di dalam masyarakat ini untuk menjadi agen social change. Maka tak heran jika sejak awal republik ini digagas, kelompok menengah inilah yang menjadi motor sekaligus katalisator.

Dari era perjuangan kemerdekaan hingga memasuki babak reformsi, kelompok mahasiswa tak pernah alpa menjadi aktor utama. Sederet nama telah mengisi etalase ‘kepahlawanan’ di negeri nusantara, mengukir sejarah dan menata wajah republik tercinta. Mereka berasal dari kelompok mahasiswa hingga namanya menelusup ke hati masyarakat Indonesia bahkan dikenal dunia. Sebut saja misalnya M. Yamin, Sutan Syahrir, Douwes Dekker, Sutomo, Soe Hok Gie, Hariman Siregar hingga Fahri Hamzah ataupun Anas Urbaningrum. Mereka menemukan momentum kepahlawanan diantara ruang artikulasi intelektualitas dan heroisme.

Mainstream Baru

Keberhasilan para pendahulu tentu tak lepas dari pemahaman akan fiqhul waqi’ (kecerdasan membaca realitas), berkontribusi sesuai dengan kebutuhan zaman. Di masa perjuangan kemerdekaan misalnya, gerakan menyatukan jong-jong atau kelompok pemuda yang masih chauvinistik (kedaerahan) menjadi tugas utama untuk menggalang persatuan.

Kekuatan perlawanan baik dalam bentuk membumikan ide nasionalisme hingga perlawanan konfrontatif (perang bersenjata) dengan kolonialis. Di masa Orde Baru dan Orde Lama pun, pada awalnya menempatkan mahasiswa sebagai partner dan memberi ruang kontribusi hingga beberapa di antaranya diakomodasi ke dalam pemerintahan, baik eksekutif maupun legislatif. Karena merasa terusik dengan beberapa keputusan pemerintah yang tidak lagi akomodatif terhadap rakyat hingga akhirnya mahasiswa balik melawan dan menjadi momok bagi pemerintah.

Tersebutlah misalnya angkatan ’66 bersama kekuatan Islam dan militer, gerakan mahasiswa berhasil menggulingkan Orde Lama  dan angkatan ’74 yang melawan kebijakan liberasi (utang) rezim Soeharto kepada pemerintah Jepang. Jika membaca sejarah gerakan mahasiswa masa lalu, maka satu simpulan simplistik bahwa gerakan mereka adalah gerakan terencana dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Ada masa yang menuntut gerakan untuk menjadikan jalanan sebagai panggung kontribusi melalui propaganda dan soft counter attack atas policy pemerintah. Ada masa ketika gerakan kembali  berkontemplasi di kampus-kampus melalui forum diskusi membentuk jejaring intelektualitas, dan ada masa ketika mereka harus terlibat di dalam pemerintahan misalnya Muhammad Yamin yang menyusun teks Pancasila hingga Syahrir yang menjadi Perdana Menteri pertama republik ini. Semua lahir dan besar dari gerakan mahasiswa. Karena format dan arah gerakan mahasiswa pada waktu itu melalui proses grand strategi yang jauh dari karakter pragmatisme.

Melihat realitas gerakan pasca reformasi, kita sedikit miris. Selain terjadi friksi hingga melemahkan gerakan, di masa ini mahasiswa pun justru menjadi kelompok intelektual marginal dan latah karena tak mampu merumuskan gerakan. Bahkan ada realitas yang sangat lucu, maksud hati ingin menyuarakan aspirasi masyarakat, tetapi di sisi lain masyarakat telah cerdas dan mampu mengartikulasi aspirasi menjadi apatis bahkan melawan klaim advokasi yang dilakukan mahasiswa.

Misalnya di Kota Makassar, terjadi bentrok antara masyarakat melawan mahasiswa yang katanya mengganggu dan meresahkan. Ambivalensi ini tentu menjadi cambuk bagi mahasiswa untuk kembali melakukan muhasabah (intropeksi) gerakan. Menemukan kerancuan yang kontraporduktif. Kemudian menggagas gerakan masa depan dengan pendekatan dan mainstream baru.

Intelektual Profetik

Intelektual menjadi wacana dialektika penting dalam perubahan sosial. Menyelisik pendekatan Ali Syariati dalam menafsirkan intelektual, ada beberapa poin penting yang menarik untuk dikontekstualisasikan keruang gerakan mahasiswa di kekinian. Syariati menyebut intelektualitas dengan istilah raushanfikr, atau kristalisasi resah atas  kenyataan penderitaan masyarakat. Kemudian mencari dan menemukan ruang kontribusi untuk membentuk wajah baru peradaban, demikian Syariati. Dalam hal ini, landasan gerakan menurut Syariati adalah idelogi.

Frans Magnis Suseno mendefinisikan ideologi sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu, yang berfungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Sementara Destut de Tracy menganggap ideologi sebagai visi yang komprehensif dan filosofis. Jika menafsirkan ketiga pendapat di atas, maka sesungguhnya intelektual merupakan ruh yang bergerak atas nalar wahyu untuk membentuk tatanan baru dengan pendekatan transendental.

Sehingga, intelektualitas tidak lagi menjadi terkooptasi dengan definisi material melalui angka-angka. Pendekatan transendental ini kemudian menarik dikaji lebih jauh sejalan dengan tiga tradisi intelektual yang kini mulai ditinggalkan.

Pertama, membaca. Dengan nalar wahyu dan ideologis, dalam hal ini Islam sebagai agama dan melahirkan ideologi. Membaca merupakan perintah pertama yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad Saw melalui surat Al’Alaq ayat 1-2. Membaca dengan pendekatan wahyu, dengan nama Tuhan. Membaca dalam definisinya yang dinamis. Baik secara qauliyah (perkataan) maupun kauniyah (tanda-tanda alam), tradisi ini kemudian mengantar Islam menjadi agama rasional dan sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Jika dibawa dalam konteks gerakan mahasiswa, maka tradisi membaca bisa didefinisikan sebagai sintesa atas laku kejumudan (kekakuan) gerakan yang mempertahankan pola-pola lama dalam realitas yang baru. Dalam hal ini perlu tafsir-tafsir radikal terhadap cara posotioning (memposisikan) ide, gagasan dari tataran konsep hingga ke tataran aksi.

Misalnya demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Apakah cara-cara klasik ini masih dibutuhkan dalam konteks kenegaraan dan demokratisasi yang membuka kran aspirasi yang aktualitatif? Di antaranya melalui dialog langsung dengan pihak-pihak terkait, melakukan advokasi dengan membentuk tim pengawas anggaran yang langsung ‘berkantor’ di DPR/DPRD atau sebentuk cara-cara yang aplikatif dan efektif.

Sekali lagi, bahwa mempertahankan cara klasik menghadapi kenyataan yang baru sungguh sangat lucu. Maka di sinilah dibutuhkan ide-ide kreatif yang tentunya lahir dari pembacaan yang komperehensif. Karena membaca kenyataan ternyata jauh lebih sulit dari sekedar membaca tumpukan buku.

Kedua adalah diskusi. Dalam bukunya Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus, Andi Rahmat melihat bahwa lahirnya gerakan gelombang reformasi tahun 1998 merupakan kulminasi dari rangkaian diskusi panjang dari masjid-masjid kampus dan ruang-ruang senat di beberapa universitas di Jawa. Hasil pembacaan seperti pada poin satu di atas melahirkan gagasan-gasan untuk menggulirkan reformasi dengan tuntutan menurunkan Soeharto.

Di kemudian hari, gagasan itu kita nikmati hingga 12 tahun kini. Menjadi pertanyaan, sejauh mana kematangan gagasan yang dibentuk dari ruang diskusi gerakan mahasiswa kekinian. Apa hanya lahir dari informasi dan gagasan sekunder sehingga hasilnya pun kata sebagian mahasiswa “sia-sia kita demo, tidak ada hasilnya”? Advokasi berbasis data dan informasi akurat yang dirumuskan dari diskusi yang mendalam sepertinya kembali menjadi kebutuhan gerakan, agar memiliki daya dorong dan efek shock.

Ketiga adalah menulis. Tak dapat kita pungkiri bahwa semua sejarah berawal dari kata. Dan adalah tulisan-tulisan menjadi salah satu pilihan dalam menyebarkan gagasan dan tawaran. Tradisi menulis yang turun temurun dari para intelektual baik nasional maupun internasional. Seperti kata Abul Hasan Ali An Nadwi seorang sastrawan Islam, bahwa kata adalah sepotong hati.

Menguasai hati massa melalui tulisan-tulisan argumentatif dengan memanfaatkan media yang kini lebih mudah diakses. Atau yang lebih mudah lagi adalah citizen journalism seperti blog dan website pribadi. Revolusi melalui literasi ini sepertinya menarik diuji coba sebagai jalan membagi gagasan secara massif dalam waktu yang relatif singkat dan biaya yang murah (efisien dan efektif).

Menggabungkan ketiga tradisi di atas secara holistik dalam pentas gerakan mahasiswa tentu menjadi genre baru gerakan yang kita harapkan diterima dan mendapat dukungan seluruh lapisan masyarakat.

Jika revolusi intelektual melahirkan genre dan warna baru gerakan, maka profetik datang sebagai kekuatan eksekusi. Bahwa mahasiswa datang dari beragam latar belakang dispilin ilmu merupakan sumber daya tersendiri yang memperkaya potensi gerakan. Misalnya yang dari displin ilmu ekonomi, kesehatan, politik, hukum dan teknik.

Jika potensi ini dipolakan dalam bentuk gerakan eksekusi melalui lokus-lokus ilmiah seperti tawaran tentang blue print pembangunan ekonomi daerah, tawaran tentang tata kelola kesehatan masyarakat miskin, ide tentang tata kota atau membentuk bantuan hukum untuk masyarakat, maka ini jauh lebih baik dan diapresiasi oleh masyarakat.

Mengaktualisasikan gerakan dalam bentuk kerja-kerja riil dan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Oleh sebagian organisasi kemahasiswaaan khususnya yang berbasis himpunan, mungkin telah mempraktikkan cara ini misalnya dengan membentuk desa binaan atau rutin melakukan baksos, akan tetapi sisi ekonomi, hukum dan politik jarang disentuh dengan bentuk advokasi riil.  Hal ini juga tentu mengasah skill profetik pada saatnya jika mahasiswa telah menjadi bagian dari pemerintah baik di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Adakah yang memikirkan? Pertanyaan ini menjadi PR bagi kawan-kawan aktivis.

Sumber : Okezone.com

Jusman Dalle
Ketua Dep. Humas Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar 2009/2011(//rfa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: