Dari Usaha Keluarga, Batik Kayu Ekspor Raup Puluhan Juta Rupiah

GARA-GARA sering mengikuti pameran kerajinan, jalan hidup Indah Rahayu Indra berubah dari pengusaha kain batik keluarga menjadi eksportir batik kayu (wooden batik). Omzetnya pun kini puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Dalam satu dekade terakhir, industri kerajinan di Tanah Air makin menggeliat. Hal ini terlihat dari frekuensi penyelenggaraan pameran produk kerajinan yang terus meningkat setiap tahun. Ajang pameran berskala nasional seperti Inacraft dan Kridaya menjadi daya tarik tersendiri yang menggambarkan miniatur produk kerajinan tangan dari seluruh penjuru Nusantara.

Ragam produknya pun kian kreatif dan inovatif. Nah, jika ada pengusaha kecil yang memetik manfaat dari pameran, Indah Rahayu Indra-lah salah satunya. Pertemuan dengan buyer pada sebuah pameran kerajinan tahun 1999 telah menjadi titik tolak menuju pengembangan usaha kerajinan batik bermerek “Rizki Ayu” yang dirintisnya di Kota Gudeg sejak 1995.

Dari situ pula, wanita asli Yogyakarta ini mulai berkenalan dengan dunia ekspor-impor. Dalam pameran kerajinan yang digelar di Jakarta itu, stan “Rizki Ayu” didominasi produk kain-kain batik. Sebagai pemanis, Indah juga memajang sebuah topeng kayu bermotif batik karya dari rekannya sesama wirausaha batik.

Tak disangka, keberadaan topeng batik itu menarik perhatian seorang buyer yang mampir di stannya. Nasib baik pun menghampiri Indah manakala sang buyer menantangnya untuk menyediakan produk batik kayu dalam jumlah banyak untuk keperluan ekspor ke Amerika, tepatnya ke California dan Louisiana.

“Untuk ekspor itu kan dalam sekali kirim minimal harus ada satu kontainer. Akhirnya, saya berkolaborasi bersama tiga perajin lainnya sepakat menerima order itu,” kenang ibu dua anak ini. Tak hanya dalam bentuk topeng batik, sang buyer juga meminta variasi produk kayu bermotif batik yang lebih fungsional seperti nampan dan mangkuk kayu bermotif batik.

Maka, pada tahun 2000, Indah dan beberapa karyawannya yang semula hanya memproduksi batik kain mulai berinovasi mengguratkan motif batik pada media kayu yang telah dibentuk menjadi perkakas rumah tangga. “Saya tidak meniru, tapi justru tuntutan pasar yang mengajak saya menekuni batik kayu,” ucap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia itu.

Kendati bukan pemain pertama di bidang batik kayu, di kota kelahirannya Indah termasuk jajaran pionir pengembangan batik kayu untuk keperluan fungsional (nondekoratif). Beberapa produknya adalah piring, mangkuk, nampan, tatakan gelas, cermin genggam, dan tempat tisu.

Semuanya terbuat dari kayu yang diberi motif batik yang kental dengan warna natural dan tradisional. “Motifnya Yogya kombinasi. Dari motif asli batik seperti kawung, lereng, lurik, ceplok, kami kombinasikan misalnya dengan motif bunga,” tuturnya.

Demi keamanan konsumen, sang buyer juga mengajari cara finishing produk dengan media nontoksik sesuai dengan standar internasional.Pasar ekspor pun kian berkembang ke beberapa negara seperti Jerman dan Spanyol. Kapasitas produksi bisa mencapai 1.500 keping setiap bulannya.

Tak disangka, usaha batik Rizki Ayu yang didirikan dengan modal awal Rp5 juta itu kini mampu meraih omzet lebih dari Rp50 juta per bulan. ”Produk batik kayu milik saya sekarang lebih banyak diekspor. Komposisinya 60 persen untuk ekspor, 40 persen lokal,” jelas wanita yang menjabat sebagai wakil ketua I Dekranas Provinsi DIY itu.

Untuk memenuhi kuota ekspor, Indah bekerja sama dengan 100 perajin batik asli yang tersebar di Yogyakarta dan Klaten. Caranya melalui kemitraan yang digalang oleh para karyawannya yang kini berjumlah 30 orang.

Beberapa karyawan ditunjuk sebagai penanggung jawab yang mengoordinasikan satu kelompok pembatik yang terdiri atas 20 orang. Setiap item produk dijual dengan harga mulai Rp5.000 sampai yang termahal Rp1 juta.

Menurut Indah, saat ini di Yogyakarta juga terdapat ratusan perajin kayu, beberapa di antaranya memiliki produk yang hampir sama dengan milik Indah. Kendati sempat sakit hati, Indah mengaku tetap optimistis, bahkan bangga karena motif batik kayu hasil karyanya lebih dari 10 tahun silam itu sekarang dijadikan tolok ukur dan menginspirasi banyak perajin.

“Yang penting saya berkomitmen untuk terus berkreasi dan menjaga kualitas produk, ” tandasnya. Indah menuturkan, untuk menjaga mutu, pembuatan produk batik kayu Rizki Ayu dilakukan melalui delapan tahapan.

Mulai dari pembuatan sketsa manual di media kayu, pembatikan, perebusan, pemberian granit, pewarnaan, perebusan kembali hingga diakhiri dengan proses finishing menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan aman (tidak menggandung racun) yang diaplikasikan dengan tiga kali proses.

Semua proses menghasilkan produk yang bertekstur amat halus saat dipegang seperti diselimuti kain batik. Tak seperti produk sejenis di pasaran yang bertekstur kasar saat diraba.

Generasi Penerus Batik

Indah Rahayu Indra bukan pemain baru dalam dunia perbatikan. Terlahir di Yogyakarta dari keluarga besar pengusaha kain batik, sejak kecil Indah sudah familier dengan proses membatik.

“Eyang saya punya usaha kain batik, lalu menurun ke ibu saya, pakdhe, dan sepupu-sepupu saya. Tapi, baru saya di keluarga yang mengembangkan batik kayu,” ujarnya. Indah menuturkan, semasa kuliah di Universitas Islam Indonesia, ia sudah menjadi tenaga marketing kecil-kecilan dari usaha kain batik milik keluarganya.

Dua tahun setelah lulus, tepatnya pada 1995, barulah ia merintis usaha kain batik sendiri dengan nama “Rizki Ayu” yang diambil dari nama depan putrinya. Lantaran dinilai lebih menjanjikan dan belum banyak pesaing, mulai 2002 secara perlahan bisnis batik kain digantikan dengan batik kayu untuk keperluan fungsional hingga sekarang.

“Untuk batik kain, saya hanya bikin kalau ada pesanan saja,” ucapnya. Kendati bukan pemain pertama di jagat batik kayu,Indah yang sejak kecil sudah memahami dunia perbatikan otomatis cepat menyesuaikan diri. Ia juga tak terpengaruh dengan aksi para kompetitornya yang menekan harga demi meraup keuntungan besar tanpa mempertimbangkan mutu produk.

“Banyak perajin yang menjual produk dengan harga murah dan mereka tidak mengerti art. Padahal, batik adalah produk budaya, harus mempunyai sentuhan art,” tandasnya.(inda susanti/koran SI)
(Koran SI/Koran SI/and)

Sumber : Okezone.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: